Jumat, 23 Januari 2009

Belajar



Never ending learning. Dalam hal apapun kita pasti selalu belajar lagi, dan lagi. Tak pernah kita menjadi sangat pintar dalam sesuatu karena diatas langit masih ada langit. Belajar juga menjadikan kita dewasa. Apalagi katanya, menjadi tua itu pasti tapi menjadi dewasa itu pilihan. Tak belajar berarti tak kunjung dewasa. Secara pemikiran, secara hati, secara kebijaksanaan, secara wawasan. So,..adakah kata yang lebih tepat selain selalu belajar di setiap waktu, setiap langkah ?

Jumat, 02 Januari 2009

Dari arsip email akhir tahun 2007


Pingin tau anggrek hitam yang tersohor khas kalimantan ? Ini dia.
Alhamdulillah berbunga dihalaman rumah, yang sekarang 'rengket'/rimbun oleh tanaman kalimantan :-) sebagai info, awal kami datang pasar bunga relatif sepi. Kalau cari tanaman kami harus ke banjarbaru dimana penjualnya rata-rata wong batu, malang. Dihalaman dan rumah orang asli banjar tidak banyak ditanami tanaman atau pot. Booming tanaman baru terasa setahunan terakhir, dipacu sekawananan gelombang cinta, anthurium dsb,..tiba-tiba tetangga-tetangga jadi punya pot tanaman. Sekarang ini, setiap hari minggu ada pasar bunga dadakan. Selain umumnya tanaman hias, sebetulnya pasar ini diawali dengan pasar anggrek yang dieksploitasi dari kandangan. Memprihatinkan karena ada kesan aji mumpung dari masyarakat sekitar untuk mengambil demi keuntungan tanpa usaha merawat. Konon sekarang ini mereka mulai kesulitan mencari dan harus masuk jauh ke dalam hutan. Bahkan untuk itu mereka harus minta bantuan orang dayak sebagai yang punya hutan karena takut dengan "penghuni"nya dan harus tinggal beberapa hari saking jauhnya atau sulitnya mengambil.
semoga kami pembeli tidak ikut berdosa dalam perambahan hutan dan keragaman hayati, karena niatnya ikut melestarikan species asli akibat pengerukan besar-besaran potensi alam oleh masyarakat,...

Betapa sedikitnya pengetahuanku

Waktu mau posting sesuatu, aku merasa banyak yang akan kutulis. Bisa dari berbagai sisi. Bahannya apa yang sudah pernah kubaca dan terekam di kepala. Ternyata, saat kutulis..wow,..keliatan sekali betapa terbatasnya apa yang kutahu.
Memang sih, there's no perfect in all things, kata oom google. (Lho? iya, check translate oom google lebih tepat seperti itu daripada kata yang dalam benakku sebelumnya ;-) )
Ilmu Tuhan memang luas,..dan otak yang luarbiasa kerjanya ini dendritnya sudah sangat canggih memproduksi segala informasi. Tapi mungkin karena kecampuran dengan perasaan yang macam-macam warnanya, nafsu dan keinginan yang tidak hanif, kesombongan, dan segala sesuatu yang mengotori,..kinerjanya bisa jadi melemah. Lha kok nyampe situ sih ?
Soalnya keinget, orang yang ngapalin doa atau surah, yang paling gampang adalah yang bersih hati. Ehh,..bukannya umur ? Iya juga. Anak-anak paling gampang memasukkan memori ke otaknya. Mungkin juga karena hatinya bersih kan ?
Kok rasanya makin meluas ya nulisnya ? stop dulu ah. Matahari tepat diatas, tapi tidak terik karena mendung tebal menggelayut di sebelah timur banjar. Bye bye dulu my blog!

Waktuku adalah Hari Ini

Waktuku adalah Hari Ini

Aku akan memulainya dengan ucapan syukur dan senyuman, bukan KRITIK.

Akan kuhargai setiap detik, menit dan jam, karena tak sedetik pun dapat ditarik kembali.

Hari ini tidak akan kusia-siakan, seperti waktu lalu yang terbuang percuma.

Hari ini takkan kuisi dengan kecemasan tentang apa yang akan terjadi esok.

Akan kupakai waktuku untuk membuat sesuatu yang kuidamkan terjadi.

Hari ini aku belajar lagi, untuk mengubah diri sendiri.

Hari ini akan kuisi dengan KARYA.

Kutinggalkan angan-angan, yang selalu mengatakan: “Aku akan melakukan sesuatu jika keadaan berubah.”

Jikalau keadaan tetap sama saja, dengan kemurahanNYA aku tetap akan sukses dengan apa yang ada padaku.

Hari ini aku akan berhenti berkata: “Aku tidak punya waktu.”

Karena aku tahu, aku tidak pernah mempunyai waktu untuk apa pun.

Jika aku ingin memiliki waktu, aku harus meluangkannya.

Hari ini akan kulalui seolah hari akhirku, akan kulakukan yang terbaik dan

… tidak akan ditunda sampai esok.

KARENA ESOK BELUM TENTU ADA

Jumat, 07 November 2008

ngupas mangga

Tadi malam ila tertarik utk belajar ngupas mangga. Lucu. walaupun licin, dia berhasil juga ngupas. Hampir tuntas karena masih ada sedikit kulit yang tersisa. Dan kulitnya juga bisa dibikin "sawah" karena tebelnya dia ngupas, bentuknya juga jadi bengkong-bengkong. Kakaknya jadi termotivasi utk belajar juga ngliat adiknya. Yang sulit bagi kakaknya adalah bagian ngiris karena ketemu pelok melulu....

Subhanallah. Detil momen yang seperti ini kadang lupa disyukuri,..

Ditulis 5 Desember 2007, dicopy dari sent item outlook,..

Sudut pandang ?

Dalam penilaian pendatang, secara umum sepertinya sepakat bahwa banjarmasin selain kumuh juga ngawur lalu lintasnya.
Orang jarang ngalah. Bahkan dibanding surabaya yang katanya kasar, perkara ngalah ini sulit ditemui disini. Kalau ada macet yang perlu solusi, biasanya makin jadi bottle neck karena sepeda motor makin merangsek maju, makin mbundel. Contoh sederhana ruwetnya lalu lintas adalah u-turn sepanjang ahmad yani. Tipikal sini adalah mencari jalan terdekat, kalau perlu melawan arah "sedikit" untuk cari belokan. Sepeda motor sih sudah biasa, kadang mobil juga ada yang nekat seperti itu,..mungkin dengan pertimbangan "sedikit" atau "toh dekat"
Di banjar banyak sekali warung makan, karena memang ada kebiasaan sarapan di warung, bukan di rumah. Di jalan menuju sekolah aya & ila, kebetulan jalan tidak terlalu lebar, dengan banyaknya pengantar, tentu saja parkiran sepeda motor di depan warung atau rumah menjadi salah satu sumber macet. Uniknya, dari sekian peristiwa macet, hanya sedikit penduduk/ pemilik sepeda motor yang "merasa", atau bertindak dengan membetulkan letak parkirnya supaya jalan lebih leluasa. Jadinya sudah hampir pada kesimpulan bahwa orang sini "cuek".
Letak sekolah aya-ila yang berada didalam komplek memang beresiko macet karena jalannya ngepas dilalui dua mobil papasan. Itupun di beberapa titik mesti saling tunggu karena ada tiang telpon atau tiang listrik. Beberapa hari ini, ada bak sampah dipasang di depan pagar sebuah rumah, diseberangnya ada panjatan dari kayu dan drum minyak sehingga dua mobil papasan tidak memungkinkan alias harus gantian. Tadi pagi, aku yang nyetir karena my suami dinas diluar kota. Disitu aku papasan dengan daihatsu terios yang dikemudikan ibu-ibu juga. Stuck karena memang terios ketemu bak sampah, aku mepet kayu dan nantinya drum. Untung ada bapaks yang berinisiatif kasih aba-aba ke aku sekaligus meminggirkan drum yang ternyata kosong. Eh, tiba-tiba ibu dari rumah yang berbak-sampah baru itu keluar "jangan dipindah. Biar saja belajar gimana mesti jalan satu-satu. Jalan tiap pagi hibak kaya gini,..(hibak=penuh)" dst,...bernada emosi. Aku cuma senyum ke ibu terios dan alhamdulillah berlalu dengan selamat dengan bantuan bapak yang kasih aba-aba.
Cuman dijalan aku jadi mikir. Selama ini sebagai pengguna jalan, aku tidak bisa mengerti kenapa warga disitu parkir motor, atau menaruh sesuatu tanpa peduli kelancaran lalu lintas. Tapi dengan omelan tadi aku jadi mikir,..ternyata kami berpikir dalam sudut pandang yang berbeda. Warga tadi merasa tidak nyaman dengan kendaraan-kendaraan yang kami pakai dan setiap hari lewat. Kami yang terganggu atau mengganggu ?
Hikmah hari ini, cobalah berpikir dengan kerangka lain, atau berpikir dari sudut pandang yang berbeda untuk mendapatkan gambaran yang lain. Benar atau pun tidak pendapat tersebut. mungkin,...

ditulis di Banjarmasin, 10 desember 2007

yang baru kukirim untuk seorang ibu baru

Hihi,..kalau soal perasaan bersalah luar biasa itu sih aku ngalamin terus dik,..bayangin,..3X !
Kalau dibanding dg dik savitri, aku jelas lebih parah "ketegaannya",..
Jangankan hrs merelakan diasuh smtr dg org lain Aku juga ninggal mereka lebih lama. Dari jam 8 pagi (kenyataannya jam 7.30 an dah berangkat krn ngantar kakak2nya) sampai jam 17.30 wita, kenyataannya sering sampe maghrib (disini jam 6-an),sabtu yang resmi libur, kadang nengok kantor atau mesti 'jualan'...

"tersiksa" dengan rasa bersalah itu tidak hanya saat meninggalkan mereka, tapi juga saat di kantor, saat di rumah ketemu mereka,..wah, pokok-e jan tenan rasane. Belum lagi kalau saat mudik, di yogya ngumpulnya dengan bukan ibu bekerja, atau di sekolah ketemu ibu yang nggak kerja. Cerita ttg kesembronoan pembantu tetangga, bagaimana mungkin sebuah kesempatan emas pertumbuhan dipercayakan pada orang lain yang ilmu-nya mbuh, tingkat rasa sayang ke anak mbuh,rasane bukan hanya kepala yang cenut-cenut tapi ati juga teriris-iris,...
Memang paling parah saat anaks bayi,..tapi bukannya terus ilang, perasaan itu terus-terusan ada. Kebutuhan anak untuk dekat ibunya kan tidak luntur, cuman bentuknya yang beda.( Sampai sekarang ila masih pengen dekat ibu kalau makan, dipegang tangannya kalau tidur, dll,...)

That's why dik,..
Aku mempertanyakan waktu tahun lalu dikau mau mutusin kerja lagi. Apa bener ? Jangan sampai perasaan yang sama -yang perih kurasakan- terjadi padamu,...

Dalam kurun waktu itu aku selalu berpikir untuk keluar dari pekerjaan. Apalagi waktu itu di unitku ada bapaks berjenggot yang dengan tegas mengatakan mudharat wanita bekerja. Lengkaplah sudah.
Aku pernah konsultasi dg ibu ,reaksi beliau malah kaget. Tahu kalau alasannya anak-anak, ibu bilang "ya nggak mungkin lah kalau mbak seperti itu" dan intinya,..jangan keluar dari pekerjaan.

Kepercayaan ibu mertua, kepercayaan suami, bahwa i can handle those responsibilities akhirnya mengantar ke keputusan yang tentu saja melalui proses panjang. Aku jalani saja seluruhnya dengan mohon pertolonganNYA. Dan juga berpikir,..Belum tentu aku lebih baik menghadapi anaks kalau aku di rumah,...